Ayah...

18.20 Edit This 0 Comments »

(dudung.net)

Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.

Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : "Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.

Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban sang Ibu.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."

"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya."

"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga sakinah dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."

"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdzikir, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."

Vidi aldiano official Website

07.38 Edit This 0 Comments »
Coba deh liat www.vidialdiano.com

web nya keren abiz....
hmmmm..... jadi pengen bikin kyk gt!!!

Semangat Opiet!!!

TuGas!!!!

07.27 Edit This 0 Comments »
Hmmm.... ini lah kuliah....

klo ga ada Tugas ya.... bagai sayur tanpa garam...
bagai taman tak berbunga... he...

hufffff....
alhamdulillah, masih diberi nikmat tugas yg banyak ma Alloh

opiet pasti bisa!!!!

11.08 Edit This 0 Comments »
Pelangi di Malam Hari : Vidi Aldiano



Pengen punya Albumnya!!!!!!!!!!!!!!
Sayang ra duwe duittttt..............

mmmmm...... download aja deh he....he....

maap yow maz Vidi..... aye.... ga' jadi nglarisi^_^

Belajar Mengalahkan Ego Diri

10.11 Edit This 0 Comments »
Penulis : Rinna Fridiana

Gara-gara tidak mengikuti kemauannya untuk masuk ke arena bermain pada mall yang kami kunjungi, si kecil ngambek (marah) tidak mau ikut makan siang. Bukan cuma itu, saat kami sekeluarga duduk mengelilingi sebuah meja makan di restoran cepat saji, dia malah memisahkan diri duduk di meja lain dengan tangan dilipat di atas meja dan bibir mungilnya maju beberapa centimeter ke depan.

Saya mencoba membujuknya dengan melambaikan tangan dan memanggilnya untuk duduk di kursi sebelah saya yang sengaja dikosongkan, tapi dia hanya menggelengkan kepala dengan mata dan raut wajah yang masih terlihat marah. Saya kemudian pura-pura marah juga dengan mengangkat bahu dan berusaha tidak lagi memperhatikan dia dengan bercanda bersama kakak-kakaknya. Seringkali saya meliriknya dan melihat dia juga mencuri pandang ke arah kami dengan kesal.

Terlihat serombongan tamu memasuki restaurant dan melangkah menuju meja yang diduduki si kecil. Saya tersenyum dan yakin ini kesempatan baik bagi saya membujuk si kecil. Namun ternyata lambaian tangan saya diacuhkannya, dia melangkah ke meja kosong lain di samping meja kami masih dengan wajah kesalnya.

Kali ini saya mengalah dan melangkah mendekatinya kemudian duduk berjongkok di hadapannya sambil menatap wajahnya. Terlihat ada sedikit air di sudut matanya yang pasti dengan usaha keras ditahankannya agar tidak jatuh. Saya langsung merasa iba dan menyesal tidak mendekatinya sedari tadi.

Kadang tanpa disadari kekerasan hati saya pun menahan saya untuk tidak bertindak lebih bijak walau semua itu dimaksudkan untuk mendidiknya agar menjadi anak shaleh. Selaku orangtua, kita tentu tidak selalu harus menuruti kehendak anak dan memenuhi semua apa-apa yang dimintanya, demikian pendapat saya. Tapi bagaimana cara kita menyikapi tentu masing-masing berbeda.

"Ke sana yuk, kita makan bareng sama teteh dan mama. Tuh makanannya udah datang. Ade suka sop buntut kan? Di sini enak lho." Saya mencoba membujuk sambil memegang tangannya.

Dia menolak sentuhan saya dan makin memanjangkan bibirnya seolah menandakan dia sangat marah. Hal itu justru membuat saya tersenyum, wajahnya menjadi sangat lucu. Saya ingin tertawa, namun jika saya sampai tertawa di depannya saat ini, bisa dipastikan dia akan bertambah marah.

"Ade tau gak kalo mama sayang banget sama ade? Mama suka sedih kalo ade ga mau makan." Sebisa mungkin saya perlihatkan wajah sedih untuk mengetuk nurani anak-anaknya. Sentuhan saya tidak ditolaknya lagi, namun masih terasa dia mengeraskan badannya dan kaku. Saya langsung memeluknya dan menggendongnya menuju kursi. Saya putuskan untuk memangkunya dan membiarkan kursi di sebelah saya kosong.

Saya kembali bercanda dengan kakaknya dan sesekali menciumi kepala si kecil sambil memeluknya. Saya bisa melihat dengan lebih jelas bahwa matanya semakin berkaca-kaca. Saya memeluknya dan membisikan kata-kata sayang di telinganya, membisikan permohonan maaf karena sudah mengecewakannya. Runtuh sudah pertahanannya, airmata meleleh di pipinya dan dia memeluk leher saya kuat-kuat sambil berbisik, "Maafin ade. Maafin ade."

Begitulah selalu. setiap kali saya berkeras dengan keinginan saya dan dia berkeras dengan keinginannya, seringkali kami malah semakin marah satu sama lain dan saling menghindari. Namun ketika saya sudah bisa menguasai keadaan, mengontrol emosi saya, dan berpikir lebih jernih, saya biasanya memilih jalan lunak dan selalu berhasil.

Dalam hidup, seringkali kita memang harus mengalahkan ego diri untuk bisa mencapai hasil terbaik dan mencapai kata mufakat. Sebagai orangtua kita merasa memiliki kuasa atas anak-anak kita, sebagai pejabat kita merasa memiliki kuasa atas bawahan kita, sebagai suami kita merasa memiliki kuasa lebih tinggi dibanding istri, begitu seterusnya.

Namun terlepas dari apa pun yang kita sandang pada diri kita, sebenarnya ego diri kita lah yang harus kita kuasai. Bukan hal-hal di luar diri kita yang sulit kita kendalikan. Apapun yang terjadi di lingkungan kita, situasi dan kondisi yang ada divsekitar kita, tetaplah kita harus bisa menguasai diri kita terlebih dahulu. Setelah kita bisa mengendalikan diri dan menjernihkan hati serta pikiran, insya Allah apa pun yang ada bisa kita terima dengan baik walaupun itu mungkin tidak sesuai dengan harapan kita. Dan hidup akan menjadi lebih mudah kita jalani walau rintangan pasti akan selalu ada menghadang.

10.28 Edit This 0 Comments »
Al-Qur’an Surat Alam Nasyrah 5-6: “Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan”. Ayat tersebut menjadi inspirasi dikala kesulitan menghadang.

Mengejar Mimpi Dikejar Deadline

08.52 Edit This 0 Comments »
Huuufffff jadi inget hari2 yang begitu..... horor buat q and ketiga temenku.....
bener...bener..... di kejar waktu...
proposal harus jadi jam 11... padahal qta baru buat jam 7 he.... ampun deh!!!!
minta ampyunnnn horornya.... ampe angin AC ikut2 tan jadi panas
^_^

akhire da perpanjangan waktu ampe jam 2....
eh malah jam 3 qta ru selesai....
pokoknya dah pasrah aja lah....
tapi alhamdulillah.... ternyta kerja keras itu ga ada yg pernah sia-sia..., proposal bisa dikumpul besok paginya, Cihuyyyy.....
tapi ya besoknya masih ada perdebatan panjang lagi he....he..

tp it's ok lah...

rasanya plonk bgt... waktu proposalnya dah dikumpul...
wahhhhh bisa bernafas lega!!!!

Nah sekarang, tinggal deg2 gan nunggu hasilna kayak apa....
Moga di kasih yang terbaik ajah....
klo lolos ya.... Kaya Raya...
klo ga ya cepet2 konsen ke PI....

Ayo opiet SEMANGAT!!!!